Mengembalikan Mindset Nilai Helm ke Tempatnya

Pak Joko dengan Cargloss kesayangannya

Helm adalah perangkat yang wajib antum gunakan selama mengoperasikan sepeda motor. Fungsi utamanya adalah untuk melindungi salah satu bagian terpenting di tubuh antum yaitu kepala (dan juga fitrah-fitrahnya). Nah, lantaran kepala adalah bagian yang butuh perlindungan serius, tentu nilai helm sebagai pelindung tidak boleh dianggap sebelah mata.

Pengendara sepeda motor di Indonesia umumnya masih menilai helm sebagai pelindung diri dari tilangan polantas. Polantasnya juga masih memandang pengendara motor tak berhelm sebagai mangsa tilangan. Macam telur dan ayam mana yang ada duluan.

Di era sunmori yang mulai terbungkam DB meter polantas (puji tuhan akhirnya bunyi motor matic berknalpot racing tanpa jeda pindah gigi mulai berkurang) seperti sekarang, nilai helm sudah menjadi lebih unik, fashion.

LS2 menjadi salah satu produsen dengan value for money terbaik

Helm impor merek papan atas seperti Arai, Shoei, AGV, hingga Bell mulai digandrungi para penunggang kuda besi dalam negeri. Jika dibandingkan dengan helm KYT Rocket (bermotor ninja 2 tak ban langsing fairing dipotong) antum, tentu harganya bak bumi dan langit. Lalu kenapa helm-helm papan atas tersebut banyak dibeli walaupun menjadi barang mewah untuk kebanyakan pemotor di sini?

Ya, fashion. Jika antum membeli helm dengan spesifikasi tinggi dan harga selangit tapi hanya untuk keperluan sunmori, tentu fungsi utamanya sebagai pelindung kepala pun terbiaskan oleh efek tambahannya, supaya keren. Pembiasan fungsi oleh efek tambahan ini akhirnya menghasilkan sikap-sikap unik pada para penggunanya. Mereka mulai menunjukkan perilaku protektif dan posesif pada helm mereka.

Bayangkan, sebuah equipment yang berfungsi melindungi dari benturan keras justru ditimang seperti puding yang rapuh, dilindungi dari sentuhan tangan teman (yang belepotan minyak dari gorengan). Tak jarang perkelahian terjadi hingga ke ranah hukum cuma gara-gara perkara kaca bersih helmnya berceplak sidik jari temannya. Belum lagi ditambah tren pengguna Arai bermotor Beat karbu. Helm Rp9 juta motor Rp3,5 juta (apeu dah).

Fenomena melebarnya nilai helm seperti ini biasa terjadi di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Salahkah? Tentu tidak. Bagi bikerista seperti antum dan saya, helm, jaket, gloves yang keren itu bagaikan sepatu dan tas mahal untuk para wanita fashionista. Satu-satunya yang harus diluruskan hanya kembalikan mindset “helm adalah pelindung kepala”.

Silakan beli helmet yang mahal terus dilovers-lovers hingga kopdar macam itu helm reptil eksotik tapi tolonglah tak perlu antum gundah gulana gondangdia tidak mau makan, tidak mau puasa, tidak mau khitan hanya karena gear tersebut tergores.

Mesin bicara yang berharap manusia mulai berhenti berkembang biak