Indonesia dan Knalpot Bisingnya

Beberapa waktu lalu akhirnya pengayom lalu lintas publik (baca: polantas yang tidak plontos) mulai dilengkapi dengan alat pengukur kebisingan.

Alat ini akhirnya melegalkan tindak tilang terhadap knalpot-knalpot dengan kebisingan di atas standar. Laiknya seorang anak dengan mainan baru, razia knalpot pun mulai dilakukan dengan penuh suka cita oleh para polantas.

Tanpa pandang bulu, motor dari cc kecil hingga besar pun terjaring. Tua muda, kaya miskin semua mendapat surat tilang tanpa bisa mendebat saat melihat db meter melebihi batas standar (walau mungkin mereka sendiri tidak tahu standarnya).

Sebagai salah satu pemotor yang gemar menggunakan knalpot bising di dalam kota, saya pun mengubur dalam-dalam knalpot bising racikan Wardi Knalpot. Biarlah knalpot senyap, toh sisi positifnya saya tidak lagi segan keluar masuk gang sempit.

FYI ini Hino

Nah, sebenarnya ada hubungan apa knalpot bising dan pemotor Indonesia? Untuk sebagian pemotor mungkin dimaksudkan sebagai bentuk peningkatan taraf gaya hidup (baca: biarlah cc Mio yang penting suara Hino). Untuk sebagian lainnya knalpot bising menjadi pelengkap jiwa modifikasi (baca: untuk apa sepatbor belakang dilepas kalau knalpot masih kurang tegas).

Jika ditanya pribadi, saya sendiri menggunakan knalpot bising lantaran sering kali knalpot standar pabrik terlalu senyap. Manuver mendahului pemotor lain pun sering menjadi ajang judi. “Duh, kaget gak ya si bapak/ibu tak berhelm ini?”

Jika si bapak/ibu tidak kaget saya dahului, tentu semua selamat. Jika mereka kaget dan kegok tentu risiko bersenggolan meningkat. Beruntung jika reflek saya baik dalam menghadapi si bapak/ibu tapi akan beda cerita kalau si bapak/ibu ini bertemu dengan bapak/ibu lainnya yang sama-sama hobi kaget.

Apa pun alasannya, emisi polusi adalah sesuatu yang tidak baik, termasuk suara. Jadi, sudah sewajarnya knalpot standar pabrik biarkan pada tempatnya. Mari mawas diri, jika motor masih moge tipu-tipu maka carilah uang yang banyak untuk beli moge original. Cc besar, suara gelegar, tak perlu seperti Hino.

Anak senja ditemani musik metal tanpa kopi

Terakhir, bagaimana nasib para pemotor berknalpot bising terdahulu? Yang dipaksa dengar knalpot sendiri ya harus ke dokter THT. Yang knalpotnya dipotong polantas merangkap kang gerinda ya harus minta pak polantasnya las lagi. Yang knalpotnya dimartilin warga ya ikhlaskan saja. Mau bagaimana pun kita adalah negara yang penuh khilaf dan dosa.

Mesin bicara yang berharap manusia mulai berhenti berkembang biak

Mesin bicara yang berharap manusia mulai berhenti berkembang biak